Nokia C2-01 Detail

Written By IMAGINATION on Kamis, 29 September 2011 | 02.27


Nokia C2-01 adalah ponsel 3G dengan harga yang paling terjangkau dari Nokia. Spesifikasi Nokia C2-01 sendiri tidak terlalu mewah, tetapi ponsel ini selain menawarkan koneksi 3G juga dilengkapi dengan kamera 3.2 MP serta dukungan kartu memori hingga 16 GB. Tidak seperti saudara Nokia C2-00, C2-01 tidak mendukung dual-SIM.

Spesifikasi dan Harga Nokia C2-01

Gambar Nokia C2-01 Foto
  • GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
  • Dimensi : 109.8 x 46.9 x 15.3mm
  • Berat : 89 gram
  • Layar berukuran 2 inci
  • Kamera 3.2 MP
  • Koneksi 3G
  • Terintegrasi dengan layanan Nokia Ovi Life Tools
  • Radio FM, pemutar musik, Bluetooth, 3.5 mm audio jack, dll
Nokia C2-01 dibanderol dengan harga 70 Euro, atau sekitar Rp 849rb. Ponsel ini akan meluncur di pasaran pada awal tahun 2011. Belum ada keterangan apakah akan dirilis di Indonesia juga atau tidak..
02.27 | 2 komentar

SERBA-SERBI KULIAH DI UNIVERSITAS AL-AZHAR

Written By Musyari Aulia on Jumat, 09 September 2011 | 00.32


SERBA-SERBI KULIAH DI UNIVERSITAS AL-AZHAR - Al-Azhar pada khususnya, dan Mesir pada umumnya, tidak seindah yang kita bayangkan. begitu juga sebaliknya, tidak seseram yang kita bayangkan. Manis pahit kehidupan pasti akan dirasakan oleh setiap mahasiswa yang kuliah di sini. Baik dari segi akademis maupun dari segi kehidupan sehari-hari.
Mesir, khususnya Al-Azhar menyimpan khazanah keilmuan yang sangat melimpah. Maka sangat wajar jika Al-Azhar selalu diminati oleh setiap orang dari berbagai negara. Menurut data statistik yang ada, mahasiswa Indonesia saja yang kuliah di Mesir mencapai angka 5000 orang, dengan prosentase sekitar 90% kuliah di Al-Azhar, sedangkan sisasanya kuliah di universitas lainnya, seperti Universitas Kairo (Cairo University), Universitas Ainun Syams (Ainun Syams University), Universitas Zamalek, dan universitas lainnya.
Selain itu juga, negara Mesir sering disebut sebagai gudangnya ilmu, karena memang di Mesir berbagai cabang ilmu ada, bahkan referensi berbentuk literature sangat banyak. Dari mulai aliran kanan sampai aliran kiri, berkembang disini. Bahkan pergerakanpun sangat beragam. Dari mulai gerakan Ikhwanul Muslimin, Anshor Sunnah, JT, HT, salafi, sampai orang liberalpun banyak. Dan tokoh-tokohnyapun selalu giat menyebarkan pemahamannya. Seperti Ust. Muhammad mahdi Akif (dari IM), DR. Hasan Hanafi (tokoh yang pemikirannya liberal), Syekh Hassan Ayuub, dll.
Okey, biar tulisan ini mengarah, diuraikan sedikit kondisi Mesir, kemudian realitas universitas al-azhar . Tujuannya tidak lain adalah untuk memberikan gambaran singkat kepada teman-teman semuanya mengenai kondisi disini. Terutama bagi teman-teman yang berminat untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Al-Azhar. Setelah membaca informasi ini, setidaknya teman-teman tidak terlalu kaget dan tidak terlalu membayangkan yang bukan-bukan mengenai kondisi disini. Karena terkadang camaba (calon mahasiswa baru), selalu membayangkan yang enak-enaknya saja. Padahal dimanapun kita berada, kita pasti akan menemui kesenangan dan kesusahan. Hal ini sudah menjadi fitrah manusia, yang akan selalu Allah uji dengan kesenangan, kelaparan, kurangnya harta, dll (QS. Al-Baqarah: 155).
Kondisi Sosisal Dan Fisik Negara Mesir
Mesir adalah kota kuno yang menyimpan sejarah kebudayaan yang unik. Sejak zaman Firaun, penjajahan Romawi, Yunani, Inggris, sampai sekarang. Bahkan sebagai saksi bisu kebudayaan dulu, masih hidup sampai sekarang, terbukti dengan masih kokohnya bangunan pyramid, bersihnya sungai nil, kuil-kuil para raja firaun di Luxor, dan lain-lain.
Sekarang ini dari segi militer, Mesir tercatat sebagai negara yang paling kuat ketiga di timur tengah setelah Israel, dan Syiria. Bahkan menjadi negara terkuat dari segi militer di kawasan benua Afrika.
Dari segi sosial kebudayaan, Mesir mempunyai peran sosial yang unik sekali. Pada umumnya Mesir memiliki watak arab yang kuat, yaitu keras dan tegas, yang berbeda 180 derajat dengan Indonesia. Sebagai contoh, para Masyayikh (jamak dari kata syaikh) ketika ceramah, sangat jarang menggunakan gaya humor. Dalam penyampainnya keras dan tegas. Berbeda dengan di Indonesia, kalau ceramah tanpa ada humor-humor ringan, terasa sangat kaku sekali.
Selain itu juga, dari sosialnya yang unik, banyak hal yang mesti kita tiru. Diantaranya, orang Mesir memiliki sifat pemaaf dan bukan pendendam. Ketika ada masalah hari itu, biasanya si Mesir langsung menyelesaikan masalah hari itu juga. Dan dalam bertengkar pun, hanya dimulut saja, dan tidak berani sampai adu jotos. Setelah selesai masalah, besoknya ketika bertemu, biasa-biasa saja kayak orang yang tidak pernah terjadi masalah apa-apa. Sebagai contoh ketika naik bis. Ketika mobilnya tersenggol oleh mobil lain, si sopir biasanya langsung berhenti kemudian bertengkar habis-habisan. Tapi uniknya bertengkar hanya sebatas mulut saja, tidak sampai menggunakan fisik. setelah capek ngomong, baru mereka saling maaf memaafkan. Bahkan yang paling parah, adalah ketika ada yang tertabrak, jurus ampuh si Mesir yang selalu keluar yaitu hanya dengan menggunakan kata Ma’alaisy (artinya maaf!), setelah itu pergi, kayak orang tanpa dosa. Dan urusanpun selesai.
Sifat lain yang harus diambil pelajaran adalah sifat tawadhu. Banyak si mesir yang kaya raya, tetapi ketika keluar rumah tidak menampakkan kekayaannnya secara berlebihan. Bahkan di kampus, banyak dosen-dosen yang kaya raya, tetapi mereka kelihatan asyik-asyik aja ketika bergelantungan, berdesak-desakan dengan mahasiswa naik bis setingkat bis Damri di Indoensia. Atau hanya naik taksi butut.Bahkan kalau bawa mobilpun, tidak sekeren BMW, atau mobil mewah lainnya. Jadi kesan yang ditangkap adalah subtansi dari sesuatu, misalkan naik mobil, yang penting sampai tujuan dengan selamat. Tidak masalah naik mobil butut, atau yang bagus. Bahkan setelah diperhatikan sebagus mobil si Mesir, pasti ada satu atau dua goresan-goresan kawat atau lainnya diluar.
Sifat lainnya adalah sifat kasih sayang terhadap sesama. Banyak orang kaya yang ngerti agama (muhsinîn). Mereka selalu menaruh perhatian terhadap warga asing yang sedang belajar ilmu agama. Banyak orang-orang mesir yang tidak tanggung-tanggung membantu kesulitan para mahasiswa dari berbagai negara, terutama membantu masalah finansialnya. Apalagi ketika bulan ramadhan, hal biasa yang mereka lakukan adalah memberikan bantuan kepada para mahasiswa. Baik berupa uang ataupun makanan pokok. Bahkan Saking hormatnya kepada para pencari ilmu (thullab), dalam memberikan bantuan pun, mereka selalu mendahulukan para mahasiswa daripada para masakin dan fuqara Mesir. Hal itu menunjukan bahwa mereka sangat mementingkan masalah pendidikan, apalagi yang belajar permasalahan agama.
Sebagai manusia, selain ada kelebihan orang Mesir pun memiliki kekurangan. Diantaranya, dari segi kekerabatan. kalau di kota setingkat kairo, yang sudah menjadi kota metropolitan, orang mesir sudah “terjangkit penyakit” individualisme. Meskipun satu apartemen, tetapi dengan tetangganya sangat jauh alias tidak akrab. Berbeda di provinsi-provinsi lain, seperti di tafahan, zaqaziq, dan thanta, kekerabatan mereka lumayan kental.
Selain itu juga, orang mesir ingin menang sendiri (egois). Terutama terhadap orang asing. Akibat dari sifat ini adalah orang mesir tidak segan-segan untuk menipu, atau ingkar janji terhadap orang asing. Contohnya, ketika hendak nyewa rumah. Si penyewa rumah untuk bulan pertama harus membayar sewa rumah, juga ta’min (asuransi) yang harganya sebanding dengan harga rumah. Dan biasanya uang ta’min ini akan kembali ketika kita mau pindah rumah. Dan itu pun kalau di rumah sewaannya tidak terdapat kerusakan apapun. Kalau terdapat kerusakan maka uang ta’min tidak akan kembali, karena uangnya habis untuk membayar perbaikan rumah. Tetapi pada kenyataannya terkadang ‘si Mesir’ ingkar janji. Uang ta’min tidak dikembalikan, walaupun dirumah tidak ada kerusakan apapun. Dalam kondisi seperti ini, ‘si mesir’ selalu mengada-ngada menginventarisir barang-barang yang rusak, padahal pada kenyataanya tidak ada kerusakan apapun.
Jadi kehidupan di mesir itu, selalu mendapatkan kehidupan yang terbalik. ketika bertemu dengan orang yang baik, maka apapun urusannya selama dia mampu, akan dibantu (bageur pisan). Tetapi ketika bertemu dengan orang yang jahat, kikir, mental maling, maka kita akan menjadi calon korban kejahatannya (jahat pisan). Maka dalam setiap bergaul dengan orang mesir, harus benar-benar selektif. Sangat beruntung punya teman orang mesir yang baik hati.
Begitulah sifat orang mesir. Watak-watak fir’aun dan watak Nabi Musa selalu menghiasi lingkungan mesir. Oleh karena itu waspadalah!! (kayak bang napi aja…)
Dari segi bangunan fisik, Mesir adalah negara kotor, semrawut, dan jorok. Bangunan-bangungan rumah orang-orang mesir, termasuk yang kita tinggali, diluar keliatan kotor, karena warna bangunan kebanyakan warna debu, meskipun ada bangunan yang berwarna bagus, harus dicat tiap tahun. Tapi itu luarnya saja, karena didalam rumahnya lumayan bagus. Maka untuk membedakan orang kaya dengan yang lainnya terlihat ketika kita masuk kedalam rumahnya. Kalau dilihat dari luar, tampak sama.
Sekelas universitas al-azhar saja, kotornya bukan main. Dan itu hampir merata diseluruh mesir, apalagi kalau berkunjung ke provinsi lain diluar kairo, semisal tafahna al-asyraaf, zaqaziq, mansurah, dimyath, dan lain-lainnya. Yang jelas kalau kita hidup mengandalkan fisiknya saja, maka mesir adalah tempat yang sangat menjemukan. Afwan, saya bukan bermaksud untuk menjelek-jelekan Mesir, tetapi apa yang saya sebutkan diatas adalah realitas yang harus dihadapi, terutama bagi teman-teman yang ingin melanjutkan kuliahnya di Universitas Al-Azhar. Karena banyak juga mahasiswa baru disini, ketika datang ke mesir, langsung down, semangatnya menurun, karena melihat banguna fisik yang tidak teratur. Karena mungkin ketika di Indonesia membayangkan mesir, seperti surga. Hal itu sangat wajar sekali dan pasti di alami oleh setiap mahasiswa baru yang datang ke mesir, termasuk saya pribadi. Tetapi sebagai mahasiswa harus berfikir juga, apakah keberhasilan seseorang selalu ditunjang oleh bangunan fisik?? Ternyata tidak! buktinya Universitas Al-Azhar yang kotor dan jorok secara fisik, tetapi telah melahirkan para ulama yang keilmuannya sangat luas sekali dan tidak diragukan. Sebut misalnya para alumni universitas Al-Azhar, DR. Yusuf Qaradawi, Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rasyid Ridho, Prof. DR. Ali Jum’ah, Prof. DR. Ali Sayyid Tanthowi, Prof. DR. Umar Hasyim, Prof. DR. Quraisy Shihab, DR. Surahman Hidayat, dll.
Dengan melihat kondisi tersebut, bagi yang ingin kuliah disini, harus menyiapkan mental yang kuat. Karena pepatah arab yang sangat terkenal yang berbunyi “Apabila kita tidak mampu menaklukan Kairo, maka kita yang akan ditaklukan oleh kairo”, itu sangat terbukti sekali. Kalau anda tidak percaya, silahkan datang ke mesir untuk mencicipi kondisi objektif Mesir!
Kondisi Objektif Kampus ‘Berdebu’ Universitas Al-Azhar
Banyak hal yang sering dirasakan oleh mahasiswa disini. misalnya dalam hal akademis. bagi mahasiswa yang basic bahasa arabnya lemah, pasti akan merasakan kesulitan ketika baca diktat kuliah. apalagi ketika mendengarkan penjelasan duktur(dosen) yang menggunakan bahasa arab ammiyah, semakin komplitlah kesulitan dalam hal akademis.
tetapi hal itu bisa disiasati, dengan bimbel (bimbingan belajar) misalnya, atau dengan kursus bahasa arab, baik melalaui lembaga-lembaga resmi di mesir, atau melalui otodidak.
yang jelas, bagi calon mahasiswa yang basic bahasa arabnya lemah, ketika tiba di mesir, harus berazam kuat untuk menguasai bahasa arab. Sebab ketika kita sudah mampu berbahasa arab, maka akan mudah pula untuk menguasai berbagai ilmu yang diberikan oleh Al-Azhar.
berbeda dengan calon mahasiswa yang basic bahasa arabnya kuat. mereka tidak akan terlalau kesulitan dalam memahami diktat kuliah. hanya mungkin beradaptasi dalam bahasa arab ammiyah saja. dan beradaptasi dengan bahasa arab ammiyah pun akan terasa mudah, jika bahasa arab fushanya lumayan bagus. karena perbedaan bahasa arab fusha dengan ammiyah banyak pada pengucapan kalimat. meskipun ada kosakata lain berbahasa ammiyah yang sering dipakai.
Sebagai contoh, kata masjid (مسجد ( biasanya dibaca masgid (dengan huruf ghin). Kata shôim ((صائم dibaca shoyim (hamzah diganti dengan huruf ‘ya’). Dan banyak lagi contoh lainnya. Yang jelas, ketika penggunaan bahasa arab ammiyah, pada umumnya menggunakan kosa kata bahasa arab fusha, namun berbeda ketika pengucapannya saja. Meskipun ada kosa kata tersendiri yang sering digunakan dalam kehidupan sehari hari, tapi tidak banyak. Contoh, kata apa kabar dalam bahasa arab fusha, menggunakan kata ((كيف حالك؟, tetapi dalam bahasa arab ammiyah menggunakan kata Izayyak ((ازيك؟. Dan contoh lainnya. insya allah kuncinya adalah ketika kita sudah memiliki basic bahasa arab yang lumayan kuat, maka dengan sering bergaul dengan orang mesir, meskipun nggak belajar bahasa arab ammiyah, insya allah akan mudah menguasainya. Kalau sebaliknya, kita belajar bahasa arab, dimulai dengan mempelajarai bahasa arab ammiyah dulu, maka akan kesulitan ketika mengguanakan bahasa arab fusha. Karena perbedaan mendasar lain dari kedua bahasa tersebut adalah penggunaan tata bahasa. Dalam bahasa arab ammiyah tidak mengenal tatabahasa yang sesuai dengan nahwu sharf, sedangkan dalam bahasa arab fusha, harus patuh pada tata bahasa arab fusha (sesuai nahwu dan sharaf).
Selain itu juga yang sering dirasakan oleh mahasiswa adalah masalah komputerisasi yang mungkin sudah mulai membudaya di indonesia. Disini pada umumnya segala administrasi tidak menggunakan komputer, tetapi masih manual menggunakan tulisan tangan. Mungkin hanya beberapa bagian saja dalam satu instansi menggunakan komputer. dari mulai surat rekomendasi , kartu kuliah, urusan di kantor imigrasi, semuanya menggunakan tulisan tangan. Mungkin bagi yang pernah kuliah di indonesia, hal ini menjadi bahan tawa (sangat ironis). Setinggi dan setua universitas al-azhar ternyata tidak menggunakan sistem komputerisasi!. Tetapi uniknya meskipun manual, untuk penjagaan arsip/dokumen, sangat rapi dan terjagakeamannnya. Bahkan ketika mencari berkaspun sangat cepat sekali. Dan memang ketika ditanya, mengapa tidak menggunakan komputer, jawabannya karena takut hilang.
Kemudian budaya thabur (ngantri) adalah pemandangan biasa yang selalu dilihat di kampus. Baik itu ketika ngurus kartu kuliah, atau urusan-urusan lainnya yang berkaitan dengan pihak universitas. Ditambah lagi thabur tidak hanya dengan orang indonesia saja, tetapi dengan seluruh negara lain yang postur tubuhnya besar. Karenanya bagi orang Indoenesia yang tubuhnya kecil, harus berjuang keras ketika berdesakkan dengan orang lain. Berdasarkan realitas seperti itu, mahasiswa baru Indonesia yang kuliah di al-azhar tidak perlu ada ospek buatan oleh senat mahasiswa, karena mahasiswa Indonesia-Mesir akan selalu mengalami ospek alami yang tidak di buat-buat. Oleh karena itu kita harus benar-benar memiliki mental yang kuat dan tidak mudah putus asa, karena ujian akan selalu menghampiri kita. Kesimpulannya mental kita harus siap ketika diuji dengan kesenangan, pun harus siap ketika diuji dengan kesedihan.
Kemudian sistem yang diberlakukan di Universitas Al-azhar tidak menggunakan sistem absensi. Meskipun tidak hadir setiap hari ketika proses belajar mengajar (muhadharah), insya allah bisa najah (lulus) naik tingkat, dengan syarat bisa ngisi soal-soal ujian. Tetapi tetap ada sebagian dosen yang mensyaratkan kehadiran 75%, kalau kurang dari itu tidak bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat. Oleh karena itu dengan sistem yang ada, mahasiswa Indonesia biasanya banyak yang aktif di luar kampus. Baik itu aktif di organisasi kajian, organisasi afiliatif, organisasi almamater, bahkan banyak teman-teman yang lain yang aktif talaqi, dan lain sebagainya. Maka tidak salah sebutan sebagian orang kepada mahasiswa Al-Azhar, dengan sebutan ‘mahasiswa tanpa kampus’. Karena memang tidak ada sistem absensi tadi.
Selain itu juga, sistem belajar mengajar di Al-Azhar menggunakan metode ceramah dan tidak ada metode diskusi, apalagi tugas-tugas pembuatan makalah –kecuali sebagian kecil saja. Maka imbas dari sistem yang diberikan Al-Azhar adalah banyak mahasiswa al-azhar yang kurang pandai dalam menulis. Dengan melihat realitas tersebut, Pak Dien (panggilan Prof. Dr. Dien Syamsudin, MA –ketika kunjungannya ke Mesir) membandingkan kemampuan ilmiyah mahasiswa Timur Tengah (termasuk Al-Azhar) dengan mahasiswa Eropa, dengan ungkapan “mahasiswa Timur Tengah kaya akan materi, sedangkan mahasiswa Eropa kaya akan metodologi”.
Selanjutnya Sistem lain yang diberlakukan oleh al-azhar adalah sistem kenaikan tingkat, bukan sistem SKS (Satuan Kredit semester). Dimana sistem ini, ketika mahasiswa memiliki sedikitnya 3 mata kuliah (maddah) nilainya kurang (dha’ifatau dhaif jiddan), maka mahasiswa tersebut tidak diperkenankan untuk naik ke tingkat selanjutnya (alias rasib/tidak lulus), tapi harus ngulang ditingkat yang sama dengan memepelajari hanya mata kuliah yang nilainya kurang. Berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan sistem SKS, ketika ada mata kuliah yang nilainya kurang, maka statusnya sama dengan yang memiliki nilai yang tinggi, dengan bisa mengikuti jenjang selanjutnya, tetapi mata kuliah yang kurang tadi, menjadi hutang dia untuk diperbaiki.
Kefakultasan Di Universitas Al-Azhar
Adapun fakultas dan jurusan yang ada di al-azhar sangat banyak sekali. Dari segi kefakultasan, Al-Azhar membagi menjadi dua, yaitu ilmi dan adabi. Hal ini dimaksudkan untuk mengikuti perkembangan zaman. Selain itu juga kefakultasan dibagi menjadi dua; putra dan putri.
Kefakultasan untuk putra dalam kategori ilmy, termasuk didalamnya, Fakultas Kedokteran, Perniagaan, Pertanian, Bahasa dan Terjemah, Ekonomi, Pendidikan, Teknik, Farmasi, Kedokteran gigi, dan Fakultas Eksakta (sains).
Adapun dari segi adaby adalah pertama, Fakultas Ushuludin yang mencakup jurusan tafsir, hadis, filsafat, dan dakwah. Semuanya ditempuh dalam waktu 4 tahun.Kedua, Fakultas Syariah wal Qanun, yang mencakup jurusan syariah islamiyah (jenjang pendidikan 4 tahun), dan jurusan syariah wal qanun (jenjeng pendidikan 5 tahun). Ketiga, fakultas bahasa arab, yang mencakup jurusan umum (lughah arabiyah dan adab), jurusan sejarah dan peradaban, jurusan jurnalistik dan publikasi. Semuanya ditempuh dalam waktu 4 tahun. Keempat, Fakultas Studi Islam (jenjang pendidikan selama 4 tahun). Kelima, Fakultas Dakwah Islamiyah (jenjang pendidikan 4 tahun).
Kefakultasan adabi dan ilmi untuk putri tidak kalah banyaknya. Dalam kategori adaby hanya ada satu fakultas yaitu fakultas studi islam dan bahasa arab, yang mencakup jurusan syariah islamiyah, syariah wal qanun, ushuludin, yang dibagi lagi menjadi tiga cabang, yaitu tafsir dan ulumul quran, hadist dan ulumul hadis, aqidah dan filsafat, dan jurusan bahasa arab dan adab. Untuk masa studi sama dengan putra.
Untuk kefakultasan dalam kategori ilmi untuk putri yaitu fakultas farmasi, ekonomi, kedokteran, eksakta, dan fakultas studi kemanusiaan, yang memiliki beberapa bidang, yaitu:
a. bidang humaniora, dibagi menjadi jurusan sosiologi, ilmu jiwa, sejarah dan geografi.
b. bidang bahasa eropa dan terjemah langsung, yang mencakup jurusan bahasa inggris dan terjemah, bahasa prancis dan terjemah, bidang bahasa timur (bahasa persia dan ibrani), bidang tarbiyah, bidang manuskrip, perpustakaan dan informasi. Adapun jenjang pendidikan ditempuh dalam 4 tahun, dengan gelar “Licence (Lc)”.
Universitas Al-Azhar tidak hanya berpusat di daerah kairo saja. Tetapi terdapat banyak cabang di luar kairo, yaitu diantaranya:
A. untuk putra
1. fakultas ushuludin dan dakwah, juga fakultas bahasa arab di zaqaziq
2. faklutas ushuludin dan dakwah, juga fakultas syariah dan qonun di tantha
3. fakultas ushuludin dan dakwah, juga fakultas bahasa arab di Manshurah
4. fakultas ushuludin dan dakwah, juga fakultas bahasa arab di syibin el-koum
5. fakultas syariah dan qanun, juga bahasa arab di damanhur
6. fakultas studi islam dan bahasa arab di dimyath
7. fakultas quranul karim dan ilmu qiroat di thanta
8. faklutas syariah dan qanun di daqahliyah
9. fakltas ushuludin dan dakwah, fakultas syariah dan qonun, fakultas ‘ulum (sains), fakultas kedokteran, fakultas farmasi, fakultas bahasa arab di Assyut
10. faklutas studi islam dan bahasa arab di Qena
11. fakultas bahasa arab di Garga
12. fakultas studi islam dan bahasa arab di Aswan
B. Untuk putri
1. fakultas studi islam dan bahasa arab di iskandariyah
2. fakultas studi islam dan bahasa arab di manshurah
3. fakultas ekonomi rumah tangga di thanta
4. kulliyantul banat di assyut
5. fakultas studi islam dan bahasa arab di suhag.
Aktifitas Ekstrakurikuler Mahasiswa Al-Azhar
Mahasiswa memiliki peran yang sangat berarti dalam setiap pergerakan. Terbukti zaman orde lama bisa tumbang karena jasa para mahasiswa, pun orde baru tumbang atas jasa mahasiswa, serta bukti-bukti lainnya. Maka tidak heran jika mahasiswa selalu identik dengan pergerakan. Begitu juga dengan mahasiswa Al-Azhar, karena organisasi kemahasiswaan di kampus tidak melibatkan mahasiswa asing, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka mahasiswa asing memiliki kendaraan organisasi masing-masing. Dalam hal ini mahasiswa Indonesia pun memiliki organisasi, yang terhimpun dalam PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia), yang menjadi organisasi induk mahasiswa. Sedangkan dibawahnya terdapat organisasi kekeluargaan, seperti KPMJB (Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat), KMB (Keluarga Masyarakat Banten), FOSGAMA (Forum Silaturahmi Keluarga Maadura) HMM (Himpunan Mahasiswa Medan), dan organisasi kekeluargaan lainnya, dimana setiap provinsi di indonesia memiliki organisasi kekeluargaan.
Selain itu juga ada senat mahasiswa, yang mencakup senat ushuludin, syariah, dirasat islamiyah, dan bahasa arab. Kemudin organisasi kajian, yang mengkaji berbagai cabang ilmu seperti ekonomi (PAKEIS), ilmu hadis, tafsir (FORDIAN), pemikiran kontemporer (MIZAN), dakwah dan pendidikan (IBADURRAHMAN), tulis-menulis (FLP dan Msi) dan yang lainnya.
Selain organisasi diatas, terdapat pula organisasi afiliatif, yaitu organisasi yang menginduk kepada organisasi masyarakat yang ada di Indonesia. Seperti Pwk. Persis (Perwakilan persatuan islam), PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah), PCINU (Pimpinan Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama), PCI Al-Washiliyyah (Pimpinan Cabang Istimewa Al-Washiliyah), PWI. PII (Perwakilan Wilayah Istimewa Pelajar Islam Indonesia) dan ICMI Orsat Kairo.
Tujuan adanya organisasi-organisasi diatas, tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa dalam bidang skill dan spesisalisasi keilmuan mereka. Di bangku kuliah tidak dibebankan membuat makalah, maka dengan aktif di organisasi kajian akan terpacu untuk membuat makalah. Di bangku kuliah secara organisasi tidak melibatkan mahasiswa asing, maka dibuatlah organisasi-organisasi pergerakan, sebagai pembelajaran bagi mereka yang suka aktif di organisasi pergerakan.
Dengan kondisi tersebut, orang-orang menyebut Mesir adalah miniatur Indonesia. Karena saking banyaknya organisasi yang didirikan mahasiswa, juga kultur yang ada hampir mirip dengan kondisi indonesia secara global.
Biaya Operasional Bulanan dan Tahunan
Untuk biaya hidup di mesir tidak memakan biaya banyak. Untuk sewa kos dan makan perbulan bisa mencapai Le. 200 (200 Pound), ongkos kuliah perbualan 30 pound. Jadi biaya pokok yang diperlukan perbulan sekitar 230 pound ditambah biaya tak terduga. Biaya tersebut belum termasuk biaya beli buku (bagi yang ingin membeli buku).
Adapun biaya tahunan yang mesti dikeluarkan untuk membayar adiministrasi di kampus kurang lebih sebesar Le. 265 (265 pound). Dengan rincian membuat kartu kuliah sebesar 65 tahun, membeli diktat kuliah sekitar 200 pound. Ditambah lagi untuk perpanjangan visa di kantor Imigrasi sebesar 11 pound. Untuk mengetahui nilai uang dalam bentuk rupiah tinggal dikalikan saja dengan angka 1700, karena selisih rupiah atas pound sebesar Rp.1700,- . kalau kita hitung biaya bulanan sekitar 230 x 1700 = Rp. 391.000,-
00.32 | 2 komentar

Global warming has become perhaps

Written By IMAGINATION on Kamis, 08 September 2011 | 07.50

Global warming has become perhaps the most complicated issue facing world leaders. On the one hand, warnings from the scientific community are becoming louder, as an increasing body of science points to rising dangers from the ongoing buildup of human-related greenhouse gases — produced mainly by the burning of fossil fuels and forests. On the other, the technological, economic and political issues that have to be resolved before a concerted worldwide effort to reduce emissions can begin have gotten no simpler, particularly in the face of a global economic slowdown.
Global talks on climate change opened in Cancún, Mexico, in late 2010 with the toughest issues unresolved, and the conference produced modest agreements. But while the measures adopted in Cancún are likely to have scant near-term impact on the warming of the planet, the international process for dealing with the issue got a significant vote of confidence.
The agreement fell well short of the broad changes scientists say are needed to avoid dangerous climate change in coming decades. But it laid the groundwork for stronger measures in the future, if nations are able to overcome the emotional arguments that have crippled climate change negotiations in recent years. The package, known as the Cancún Agreements, gives the more than 190 countries participating in the conference another year to decide whether to extend the frayed Kyoto Protocol, the 1997 agreement that requires most wealthy nations to trim their emissions while providing assistance to developing countries to pursue a cleaner energy future.
At the heart of the international debate is a momentous tussle between rich and poor countries over who steps up first and who pays most for changed energy menus.
In the United States, on Jan. 2, 2011, the Environmental Protection Agency imposed its first regulations related to greenhouse gas emissions. The immediate effect on utilities, refiners and major manufacturers will be small, with the new rules applying only to those planning to build large new facilities or make major modifications to existing plants.  Over the next decade, however, the agency plans to regulate virtually all sources of greenhouse gases, imposing efficiency and emissions requirements on nearly every industry and every region.
President Obama vowed as a candidate that he would put the United States on a path to addressing climate change by reducing emissions of carbon dioxide and other greenhouse gas pollutants. He offered Congress wide latitude to pass climate change legislation, but held in reserve the threat of E.P.A. regulation if it failed to act. The deeply polarized Senate’s refusal to enact climate change legislation essentially called his bluff.
But working through the E.P.A. has guaranteed a clash between the administration and Republicans that carries substantial risks for both sides. The administration is on notice that if it moves too far and too fast in trying to curtail the ubiquitous gases that are heating the planet it risks a Congressional backlash that could set back the effort for years.  But the newly muscular Republicans in Congress could also stumble by moving too aggressively to handcuff the Environmental Protection Agency, provoking a popular outcry that they are endangering public health in the service of their well-heeled patrons in industry.
Global Talks
The United States entered the Cancún conference in 2010 in a weak position because of continuing disputes with China and other major developing nations over verification of emissions reductions, and its lack of action on domestic climate and energy legislation. Democratic leaders in the Senate in July 2010 gave up on reaching even a scaled-down climate bill, in the face of opposition from Republicans and some energy-state Democrats. The House had passed a broad cap-and-trade bill in 2009.
The Cancún conference ended in December 2010, with only modest achievements. The conference approved a package of agreements that sets up a new fund to help poor countries adapt to climate changes, creates new mechanisms for transfer of clean energy technology, provides compensation for the preservation of tropical forests and strengthens the emissions reductions pledges that came out of the last United Nations climate change meeting in Copenhagen in 2009.
The conference approved the agreement over the objections of Bolivia, which condemned the pact as too weak. But those protests did not block its acceptance. Delegates from island states and the least-developed countries warmly welcomed the pact because it would start the flow of billions of dollars to assist them to adopt cleaner energy systems and adapt to inevitable changes in the climate, like sea rise and drought.
But the conference left unresolved where the $100 billion in annual climate-related aid that the wealthy nations have promised to provide would come from.
The United Nations Framework Convention on Climate Change, under whose auspices these annual talks are held, operates on the principle of consensus, meaning that any of the more than 190 participating nations can hold up an agreement.
Background
Scientists learned long ago that the earth's climate has powerfully shaped the history of the human species — biologically, culturally and geographically. But only in the last few decades has research revealed that humans can be a powerful influence on the climate as well.  
A growing body of scientific evidence indicates that since 1950, the world's climate has been warming, primarily as a result of emissions from unfettered burning of fossil fuels and the razing of tropical forests. Such activity adds to the atmosphere's invisible blanket of carbon dioxide and other heat-trapping "greenhouse" gases. Recent research has shown that methane, which flows from landfills, livestock and oil and gas facilities, is a close second to carbon dioxide in impact on the atmosphere.
That conclusion has emerged through a broad body of analysis in fields as disparate as glaciology, the study of glacial formations, and palynology, the study of the distribution of pollen grains in lake mud. It is based on a host of assessments by the world's leading organizations of climate and earth scientists.
In the last several years, the scientific case that the rising human influence on climate could become disruptive has become particularly robust.
Some fluctuations in the Earth's temperature are inevitable regardless of human activity — because of decades-long ocean cycles, for example. But centuries of rising temperatures and seas lie ahead if the release of emissions from the burning of fossil fuels and deforestation continues unabated, according to the Intergovernmental Panel on Climate Change. The panel shared the 2007 Nobel Peace Prize with former Vice President Al Gore for alerting the world to warming's risks.
Despite the scientific consensus on these basic conclusions, enormously important details remain murky. That reality has been seized upon by some groups and scientists disputing the overall consensus and opposing changes in energy policies.
For example, estimates of the amount of warming that would result from a doubling of greenhouse gas concentrations (compared to the level just before the Industrial Revolution got under way in the early 19th century) range from 3.6 degrees to 8 degrees Fahrenheit. The intergovernmental climate panel said it could not rule out even higher temperatures. While the low end could probably be tolerated, the high end would almost certainly result in calamitous, long-lasting disruptions of ecosystems and economies, a host of studies have concluded. A wide range of economists and earth scientists say that level of risk justifies an aggressive response.
Other questions have persisted despite a century-long accumulation of studies pointing to human-driven warming. The rate and extent at which sea levels will rise in this century as ice sheets erode remains highly uncertain, even as the long-term forecast of centuries of retreating shorelines remains intact. Scientists are struggling more than ever to disentangle how the heat building in the seas and atmosphere will affect the strength and number of tropical cyclones. The latest science suggests there will be more hurricanes and typhoons that reach the most dangerous categories of intensity, but fewer storms over all.
Government figures for the global climate show that 2010 was the wettest year in the historical record, and it tied 2005 as the hottest year since record-keeping began in 1880.

Steps Toward a Response
The debate over climate questions pales next to the fight over what to do, or not do, in a world where fossil fuels still underpin both rich and emerging economies. With the completion of the United Nations Framework Convention on Climate Change at the Earth Summit in 1992, the world's nations pledged to avoid dangerously disrupting the climate through the buildup of greenhouse gases, but they never defined how much warming was too much.
Nonetheless, recognizing that the original climate treaty was proving ineffective, all of the world's industrialized countries except for the United States accepted binding restrictions on their greenhouse gas emissions under the Kyoto Protocol, which was negotiated in Japan in 1997. That accord took effect in 2005 and its gas restrictions expire in 2012. The United States signed the treaty, but it was never submitted for ratification, in the face of overwhelming opposition in the Senate because the pact required no steps by China or other fast-growing developing countries.
It took until 2009 for the leaders of the world's largest economic powers to agree on a dangerous climate threshold: an increase of 2 degrees Celsius (3.6 degrees Fahrenheit) from the average global temperature recorded just before the Industrial Revolution kicked into gear. (This translates into an increase of 1.3 degrees Fahrenheit above the Earth's current average temperature, about 59 degrees).
The Group of 8 industrial powers also agreed that year to a goal of reducing global emissions 50 percent by 2050, with the richest countries leading the way by cutting their emissions 80 percent. But they did not set a baseline from which to measure that reduction, and so far firm interim targets — which many climate scientists say would be more meaningful — have not been defined.
At the same time, fast-growing emerging economic powerhouses, led by China and India, still oppose taking on mandatory obligations to curb their emissions. They say they will do what they can to rein in growth in emissions — as long as their economies do not suffer. The world's poorest countries, in the meantime, are seeking payments to help make them less vulnerable to the impacts of climate change, given that the buildup in climate-warming gases so far has come mainly from richer nations. Such aid has been promised since the 1992 treaty and a fund was set up under the Kyoto Protocol. But while tens of billions of dollars are said to be needed, only millions have flowed so far.
In many ways, the debate over global climate policy is a result of a global "climate divide.'' Emissions of carbon dioxide per person range from less than 2 tons per year in India, where 400 million people lack access to electricity, to more than 20 in the United States. The richest countries are also best able to use wealth and technology to insulate themselves from climate hazards, while the poorest, which have done the least to cause the problem, are the most exposed.
In the meantime, a recent dip in emissions caused by the global economic slowdown is almost certain to be followed by a rise, scientists warn, and with population and appetites for energy projected to rise through mid-century, they say the entwined challenges of climate and energy will only intensify.
07.50 | 0 komentar

Zvonareva Forced to Play Three-Set

Written By Musyari Aulia on Kamis, 01 September 2011 | 05.52


New York - Vera Zvonareva made ​​it to the third round of U.S. Open Grand Slam. But, second-seeded Russian had to work hard first time face Kateryna Bondarenko.

In the second round matches on Thursday (01/09/2011) pm dawn, Zvonareva won the opening set with the score 7-5. But, in the second set, it gave up last year's finalists from Bondarenko 3-6.

In the final set, Zvonareva did not repeat his mistake and end Bondarenko resistance with the score 6-3. In total, he took two hours seven minutes to repatriate the Ukrainian tennis player.

Zvonareva will be challenged 30th-seeded Spaniard Anabel Medina Garrigues, in the third round. Garrigues qualified after defeating Laura Robson (Britain) 6-2, 6-3.

Other players who have confirmed themselves to qualify for the third round, among others, Maria Kirilenko, Peng Shuai, Julia Goerges, Lucie Safarova, and Monica Niculescu.
05.52 | 1 komentar

Stats

free counters
My Popularity (by popuri.us)
Check Google Page Rank

Sahabat

ShoutMix


ShoutMix chat widget