Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Fasting Most Special

Written By IMAGINATION on Senin, 08 Agustus 2011 | 04.58

Based on history, fasting at least divided into three categories. Namely, fasting the layman, special oraang fasting and fasting of the most special person. For the first category, this fast is just a hunger and thirst. That is, although not providing benefits sanagt great, but this type of fasting is considered biased simply because it has fulfilled the obligations and rewards free from punishment.

The second is a special fasting fasting, ie in addition to hunger and thirst, this person also maintain the view, verbal legs, body and all her senses too fast from sinner to God, either secretly or openly. For those who can strive for this type of fasting, they were promised rewards are multiple and infinite.

While fasting the third category is the most special fasts are likely only able to be run by special people too. They no longer hold fast just hungry, thirsty and fast limb, but it's been on stage to keep herself from thinking about the world's bustle. That is fast for those who have exceeded the bonding time and space. Where all of life and life is nothing else but God alone.

Of the three categories, no one can judge except God and ourselves on the quality of each of our fasting. Although we often menggolangkan humble ourselves as a layman, does not mean we have to choose first class. Instead we are encouraged jihad to be the most special fasting.

This condition is nearly equal to the grouping of people who worship by the door of science Prophet, Ali ibn Abi Talib. Ali distinguishes human worship to the three classes, namely slaves worship, prayer and worship of independent traders. Totality because obedient slave worship to God, because there is no other way than that, like a slave to his master obediently. Worship being more merchants look to the profit and loss. That is, the worship he has gained a surge, was broken to lose the hell as a result.

The highest types of worship instead of worship of free people. Therefore, this type of worship is no longer tied to the fear of hell or miss the surge. But as said Ali bin Abi Talib, a free man worship is worship to God because God is most worthy of worship. Welcome and congratulations to choose fast.
04.58 | 0 komentar

Circumcision practice

Written By IMAGINATION on Minggu, 07 Agustus 2011 | 13.10

"It is not someone who makes it into practice surges or detached from hell, including me, but solely because of the grace of God Almighty" (Narrated by Muslim)

The amount of reward that is provided in the month of Ramadan raises the urge to collect as much as possible. However, as much as much as any practice that is done, should not cause riya.

Especially if to make sure the heart must enter the surge with a collection practices. Therefore, enter the heaven of God's servant is a person because of God's grace. God's grace must be given to the pleases. Therefore, the duty of man is trying to get more loving care of God.

Qudsi following hadith explains how to get more loving care of God. God said, "You shall do as much, many rituals of circumcision so that I fell in love with you." Thus, practice-practice circumcision should not be ignored because it is so important meaning. Hence, for those who know it, ignore it taka. In fact, rituals like circumcision performed devotions compulsory.

According to scholars, the practice is a measure tungginya circumcise one's love slave to God. Because, if the acts of worship that must be done, it is an obligation that if left would sin.

While worship circumcision, no sin if abandoned, but only loved by the people who have a love for God. Therefore, the fair gets the love of God for people who always carry out the rituals of circumcision.
13.10 | 0 komentar

Stand Firm

"O Allah, teach me an address so I should not say to others. Messenger s.a.w. answered, "say 'I believe in God, then shall you stand firm." (Narrated by Muslim).

Stand firmly upon faith not able to take care of all people. But so important beristiqamah or keeps having faith. Moreover, the tides have faith bias at any time. Even the tide of faith is often experienced after they work hard in order to install (faith) during the month of Ramadan.

Of course very risky for people who live in faith receded or even no faith. Because, not impossible in the current term is so inviting. Until the Lord is reminding the holy Quran that do not die except a believer or a Muslim.

While this is clearly noted, people were given the opportunity to choose to die a believer or not. Not some of us are unable to control his life, and eventually found himself die without faith. The evidence, not everyone is able to act straight or live according to the demands of faith. Night and believe the day has changed.
13.08 | 1 komentar

5 Tips Agar Menjalani Puasa Dengan Baik

Written By IMAGINATION on Selasa, 02 Agustus 2011 | 17.20

Sebagai muslim yang sejarti, kehadiran Ramadhan merupakan suatu moment yang sangat berharga, dan sangat membahagiakan yang suatu hal yag sudah di tunggu jauh-jauh hari. Betapa tidak, sangat banyak amalan yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan ini, yang mendatangkan kedasyatan dan manfaat yang besar di akhirat kelak. Disini letak pentingnya bagi kita untuk mengungkapkan rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan. Semoga setelah membaca ini saudara semua dapat mengetahui dan dapat merasakan hal yang kita bicarakan di bawah ini.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

1. Menguatkan Jiwa.
Dalam hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.

Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23).

Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:

Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).

2. Mendidik Kemauan.
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar. Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima.

Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

3. Menyehatkan Badan.

Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4. Mengenal Nilai Kenikmatan.
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya.

Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh. Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).

5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.

Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.

Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, pi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).

Karena rahasia puasa merupakan sesuatu yang amat penting bagi kita, maka sudah sepantasnyalah kalau kita harus menyambut kedatangan Ramadhan tahun ini dengan penuh rasa gembira sehingga kegembiraan kita ini akan membuat kita bisa melaksanakan ibadah Ramadhan nanti dengan ringan meskipun sebenarnya ibadah Ramadhan itu berat.

Kegembiraan terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar. Kita tentu harus prihatin akan kondisi bangsa kita yang sedang mengalami krisis, krisis yang seharusnya diatasi dengan memantapkan iman dan taqwa, tapi malah dengan menggunakan cara sendiri-sendiri yang akhirnya malah memicu pertentangan dan perpecahan yang justeru menjauhkan kita dari rahmat dan keberkahan dari Allah Swt.
17.20 | 0 komentar

Fadillah Shalat Sunat Tarawih

Written By IMAGINATION on Senin, 01 Agustus 2011 | 01.39

Fadilah Sholat di Bulan Suci Ramadhan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A bahwa Rasulollah SAW. Ditanya tentang fadilah (Keutamaan) Sholat Tarawih di Bulan Suci Ramadhan:
Sabda Rasulollah SAW :
  1. Pada malam pertama, dibersihkan seorang mu’min dari dosa – dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan.
  2. Pada malam kedua, diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya yang beriman.
  3. Pada malam ketiga, berseru para Malaikat dari singgasana Allah untuk mengampuni dosa yang telah lalu.
  4. Pada malam keempat, diberikan pahala seperti orang yang membaca zabur, Injil, Taurat dan Alqur’an.
  5. Pada malam kelima, Allah akan memberikan pahala seperti pahala sholat di masjid haram,Nabawi, dan Aqsa.
  6. Pada malam keenam, diberikan pahala seperti thawafnya di baitil ma’mur dan semua makluk memohon ampun baginya.
  7. Pada malam ketujuh, seolah-olah dia hidup pada zaman Nabi Musa dan membel;anya dari Fir’aun.
  8. Pada malam kedelapan, Allah akan memberikan ganjaran seperti ganjaran yang diberikan pada Nabi Ibrahim A.S.
  9. Pada malam kesembilan, Seakan-akan dia beribadah seperti ibadahnya para Nabi.
  10. Pada malam kesepuluh, Allah memberikan kebaikan dunia dan akhirat (Rejeki).
  11. Pada malam kesebelas, Dikeluarkan dari dunia (meninggal) seperti bayi yang baru lahir.
  12. Pada malam keduabelas,di hari kiamat nanti wajahnya beriman seperti bulan purnama.
  13. Pada malam ketigabelas, Akan datang pada hari kiamat terbebas dari keburukan.
  14. Pada malam keempatbelas, Akan disaksikan para Malaikat bahwa mereka telah melakukan sholat tarawih dan terbebas dari hitungan di yaumil akhir.
  15. Pada malam kelimabelas, Mendapatkan doa dari para Malaikat dari singgasana Allah SWT.
  16. Pada malam keenambelas, Allah SWT akan memasukkan ke golongan orang orang yang terbebas dari api neraka dan kegolongan ahli surga.
  17. Pada malam ketujuhbelas, diberikan ganjaran sama yang diberikan oleh para Nabi.
  18. Pada malam kedelapanbelas,bersama Malaikat wahai hamba-hamba Allah ketahui bahwa Allah telah meridhoimu dan kedua orang tua.
  19. Pada malam kesembilanbelas, diangkat oleh Allah pada derajat ahli surga firdaus.
  20. Pada malam keduapuluh, Akan diberikan pahala seperti pahala mati syahid.
  21. Pada malam keduapuluhsatu, Allah akan membuat istana di surga yang terbuat dari cahaya.
  22. Pada malam keduapuluhdua, Dia akan datang pada hari kiamat terbebas dari belenggu kesusahan.
  23. Pada malm keduapuluhtiga, Allah akan membangun untuknya sebuah kota disurga.
  24. Pada malam keduapuluhempat, Diberikan padanya 24 doa yang akan dikabulkan.
  25. Pada malam keduapuluhlima, dibebaskan dari azab kubur.
  26. Pada malam keduapuluenam, Akan diberikan pahala untuk 40 tahun yang akan datang.
  27. Pada malam keduapuluhtujuh, ketika hari kiamat dia akan melintasi jembatan (siroth) seperti secepat kilat.
  28. Pada malam keduapuluhdelapan, Akan diberikan oleh Allah derajatnya 1000 kali disurga.
  29. Pada malam keduapuluhsembilan, akan diberikan pahala 100 haji yang mabrur.
  30. Pada malam ketigapuluh, Allah akan berfirman : Wahai hambaku, makanlah dari buah-buahan surga, mandilah dari air surga, minumlah dari kautsar, Akulah Rabbmu dan engkau hambaku”
Subhanallah,, semoga kita bisa menjaga ke 30 tarawih tersebut, dan semoga amalan kita di terima oleh Allah,,, Amiin,,,
01.39 | 1 komentar

Al Qur’an Jangan Dijadikan Sebagai Bantal

Written By IMAGINATION on Sabtu, 30 Juli 2011 | 07.06

Dari Ubaidillah Al Mulaiki R.A., dia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Wahai ahli Al Qur’an, jangan menggunakan Al Qur’an sebagai bantal, dan bacalah Ia dengan sungguh-sungguh diwaktu malam dan siang, sebarkanlah Ia, dan bacalah Ia dengan suara yang merdu. Renungkanlah kandungannya agar kamu beruntung, dan janganlah menggunakannya untuk mendapat ganjaran (di dunia). Karena sesungguhnya Ia memiliki ganjaran (dia akhirat).”

Dalam hadist tersebut terdapat beberapa pelajaran bagi kita:
1.    Al Qur’an jangan dijadikan sebagai bantal
Ada dua maksud dengan kata-kata jangan menjadikan Al Qur’an sebagai bantal. Pertama, menjadikan Al Qur’an sebagai bantal adalah bertentangan dengan adab sopan-santun terhadap Al Qur’an. Ibnu Hajar menulis bahwa menjadikan Al Qur’an sebagai bantal, menjulur kaki ke arahnya, dan manginjaknya, adalah perbuatan-perbuatan haram. Kedua, menjadikan Al Qur’an sebagai bantal adalah suatu kalalaian. Maksudnya adalah bahwa keberkatan Al Qur’an itu tidak didapat hanya dengan meletakkan Al Qur’an di atas bantal sebagaimana jika ketika menziarahi kuburan, meletakkan Al QUr’an di atasnya untuk sekedar memperoleh berkat, maka perbuatan itu tidak membawa manfaat apa pun. Ini menghina Al Qur’an, karena maksud diturunkan Al Qur’an adalah untuk dibaca.

2.    Banyak membaca Al Qur’an memenuhi adabnya.
Perintah raja akan dibaca dengan penuh penghormatan, dan surat dari kekasih akan dibaca dengan penuh kecintaan. Begitu pula Al Qur’an hendaknya dibaca seperti itu.

3.    Sebarkan Al Qur’an, melalui ceramah, tulisan, targhib, dengan amalan, atau dengan cara apa saja yang bias menyebabkan Al Qur’an tersebar.
4.    Membaca dengan suara yang merdu sebagaimana diterangkan dalam hadist.
5.    Mendalami maknanya.
6.    Dan janganlahmenginginkan balasan di dunia.
Apabila membaca Al Qur’an janganlah mengambil upah sedikit pun. Karena di akhirat, kita akan mendapatkan balasan yang besar dari bacaan kita. Jika di dunia ini kita mengambil upah, maka hal itu seperti seorang yang berpuas hati apabila uangnya ditukar dengan kulit-kulit kerang.

Rasulullah saw bersabda, “jika umatku mementingkan uang, maka akan hilang kehebatan Islam. Dan jika meninggalkan amar ma’ruf wa nahi mungkar, maka akan hilang keberkatan wahyu, yakni disulitkan untuk memahami Al Qur’an.” Semoga Allah menjaga kita dari hal yang demikian. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan.
07.06 | 0 komentar

Puasa Paling Khusus

Written By IMAGINATION on Jumat, 29 Juli 2011 | 21.12

Berdasarkan riwayat, puasa setidaknya dibagi dalam tiga kategori. Yaitu, puasa orang awam, puasa oraang khusus serta puasa orang yang paling khusus. Untuk kategori pertama, puasa ini adalah sekedar menahan lapar dan dahaga. Artinya, meski tidak memberikan manfaat yang sanagt besar, namun puasa jenis ini sudah bias dinilai cukup karena telah menunaikan kewajiban serta ganjaran terbebas dari azab.

Puasa kedua adalah puasa khusus, yakni selain menahan lapar dan dahaga, orang ini juga menjaga pandangan, lisan kaki, badan serta semua indranya juga berpuasa dari berbuat maksiat kepada Allah SWT, baik secara sembunyi ataupun terang –terangan. Bagi yang mampu berjihad untuk jenis puasa ini maka mereka dijanjikan ganjaran yang berlipat dan tak terhingga.

Sementara kategori puasa yang ketiga adalah puasa paling khusus yang kemungkinan besar hanya mampu dijalankan oleh orang khusus pula. Mereka bukan lagi berpuasa hanya sekedar menahan lapar, dahaga serta puasanya anggota tubuh, tapi sudah pada tahapan menjaga dirinya dari kesibukan memikirkan dunia. Itulah puasa bagi orang yang telah melampaui ikatan ruang dan waktu. Dimana seluruh hidup dan kehidupannya tiada lain kecuali Allah semata.

Dari ketiga kategori tersebut, tiada seorang pun yang dapat menilai kecuali Allah dan diri kita sendiri terhadap kualitas puasa kita masing-masing. Walaupun secara rendah hati kita sering menggolangkan diri kita sebagai orang awam, bukan berarti kita harus memilih golongan pertama. Justru kita dianjurkan berjihad untuk menjadi orang yang puasanya paling khusus.

Kondisi ini hamper sama dengan pengelompokan orang –orang yang beribadah oleh pintu ilmu Nabi, Ali bin Abi Thalib. Ali membedakan ibadah manusia kepada tiga kelas, yakni ibadah orang budak, ibadah pedagang serta ibadah orang merdeka. Ibadah budak karena patuh totalitas kepada Allah, sebab tidak ada jalan lain selain itu, laksana patuhnya budak terhadap tuannya. Sedang ibadah pedagang lebih melihat kepada untung rugi. Artinya, dengan ibadah ia mendapat untung berupa surge, sedang ingkar merugi dengan neraka sebagai akibatnya.

Jenis ibadah yang paling tinggi justru ibadahnya orang merdeka. Sebab, ibadah jenis ini tidak lagi terikat pada ketakutan neraka atau rindukan surge. Tapi seperti  kata Ali bin Abi Thalib, ibadah orang merdeka adalah ibadah kepada Allah karena memang Allahlah yang paling layak disembah. Selamat memilih dan selamat berpuasa.
21.12 | 0 komentar

Maksiat

“Janganlah engkau memandang kecilnya dosa, tetapi pandanglah Zat yang agung yang engkau maksiati” (Bilal bin Sa’d)
Maksiat memang kerap menghiasi hari-hari manusia di muka bumi ini. Sebagian orang berusaha untuk mengekang dari melakukannya dan bahkan mencegahnya. Sebahagian yang lain bahkan bukan hanya berbuat maksiat kepada dirinya, tetapi juga kepada orang lain. Namun yang perlu diingat, baik berbuat maksiat kepada diri sendiri maupun orang lain bukan tidak mempunyai hubungan dengan Allah. Bahkan hubungannya erat dan tak bias dipisahkan.

Menghargai diri sendiri dan orang lain dengan tidak berbuat maksiat sama artinya menghargai ciptaan Allah. Sebab, tidak ada yang menciptakan manusia, baik diri kita sendiri maupun orang lain, kecuali Allah semata. Makanya bagi orang-orang beriman, akan senantiasa menghindari diri dari melakukan maksiat, sebagai bentuk penghargaannya ynag tinggi terhadap ciptaan Allah.

Dengan demikian, yang suka berbuat maksiat termasuk orang –orang yang tidak menghargai ciptaan Allah. Makanya wajar bila orang-orang seperti itu tidak diterima shalatnya. Sabda Nabi saw di antara sepuluh macam orang yang shalatnya tidak diterima Allah ialah orang yang shalatnya tidak menahannyadari perbuatan yang keji dan mungkar. Selanjutnya Hasan ra mengatakan bahwa siapapun yang shalatnya tidak dapat menahannya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia dianggap orang yang tidak mengerjakan shalat. Dan pada hari kiamat nanti, shalatnya akan dilempar semua ke mukanya.
21.11 | 0 komentar

Stats

free counters
My Popularity (by popuri.us)
Check Google Page Rank

Sahabat

ShoutMix


ShoutMix chat widget